Republika Online/ Sela
sa, 15 Januari 2008
MEDAN — Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumatera Utara (Sumut) tetap akan mengakui pelaksana tugas di partai pada tiap tingkatan (DPD/DPC), jika terjadi masalah internal dalam pengajuan calon gubernur (cagub). Sikap ini untuk mengantisipasi agar tidak terjadi stagnasi dalam proses Pilkada Sulsel untuk memilih gubernur/wakil gubernur periode 2008-2013.
”Jadi, kami akan tetap mengakui adanya pelaksana (ketua atau sekreatris) jika ada parpol yang tengah bermasalah sehingga terjadi dualisme pengajuan, atau pimpinan parpol bersangkutan tidak mengajukan calon,” Ketua KPUD Sumut, Irham Buana Nasution, kepada Republika, Senin (14/1).
Sikap KPUD itu berlandaskan Peraturan Pemerntah (PP) No 06/2005, yang mengatur tentang pimpinan parpol di tiap tingkatan dalam proses pengajuan calon kepala daerah. Irham menegaskan, dalam menyelesaikan masalah internal parpol, KPUD tidak akan ikut campur sejauh tidak terkait dengan proses pencalonan.
Jika terjadi masalah, KPUD akan lebih banyak berkomunikasi dengan dewan pimpinan pusat (DPP) parpol. ”Dengan dasar petunjuk DPP parpol bersangkutan KPUD melanjutkan proses pencalonan,” tegasnya.
Pilkada Sumut yang akan dilaksanakan April 2008, mulai dibayang-bayangi permasalahan. Mislanya DPP PAN yang menonaktifkan Ketua DPW PAN Sumut, Kamalauddin Harahap, menyusul kisruh pencalonan gubernur. Kamaluddin digantikan Viva Yoga Mauladi sebagai pelaksana Ketua DPW Sumut.
PDIP juga berpotensi bermasalah. Pasalnya, dalam proses fit and proper test akhir pekan lalu, Gubernur Sumut Rudolf Pardede tidak muncul sebagai cagub yang akan diusung. Padahal, dalam Rapat Kerja Daerah Khusus (Rakerdasus) PDIP, Rudolf yang juga Ketua DPD PDIP Sumut, memperoleh suara terbesar dari cabang-cabang yang menyaring nama-nama bakal calon.
Dengan sikap DPP itu — yang sejak awal meminta Rudolf tidak usah maju karena berbagai masalah — Rudolf akan membalasnya dengan tidak akan menandatangani pencalonan gubernur. Dugaan inilah yang dikhawatirkan akan terjadi, mengingat sebagai partai kedua terbesar, PDIP belum juga memastikan siapa yang akan dimajukan sebagai calon gubernur nantinya.
Beberapa sumber di DPP PDIP membenarkan, kalau saat ini ada skenario jika Rudolf tidak akan mau menandatangani pencolonan. Antara lain dengan menunjuk pelaksana, sebagaimana dilakukan PAN. Sayangnya, tidak ada pengurus yang berani memberi komentar terbuka.
Sedangkan Rudolf, belakangan ini terkesan menghindar kalau ditanya wartawan. ”Saya masih gubernur,” tukasnya. PDIP saat ini mengaku masih dalam proses penetapan calon. Namun pasangan gubernur dan wakil sudah mulai dilakukan. Disebut-sebut, pasangan yang digodok adalah Letjen TNI Cornel Simbolon-Alamsyah Hamdani, Chairuman Harahap-Yasona Laoli, dan Beny Pasaribu-Brigjen Machfud.
(nin )